Minggu, 12 Juli 2020

Science Object and The observation

PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO
DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAH RAGA
SEKOLAH MENENGAH NEGERI 3
Jalan  Hayam  Wuruk No. 155  Telp./ Fax. ( 0335 ) 422151
P R O B O L I N G G O    -    Kode Pos 67217
 

Lembar Kerja I
 (dalam Pembelajaran Daring)
OBJEK IPA DAN PENGAMATANNYA

Memahami IPA melalui Thinking Empowerement by Questioning (PBMP) dengan Mengembangkan Kemampuan Science Literacy

Sediakan
Perhatikan gambar berikut untuk memudahkan pengamatan diri sendiri. Lakukan di depan cermin

Lakukan
Mengamati diri sendiri
1. Lakukan pengamatan menggunakan cermin! Amati sebanyak mungkin ciri-cirimu yang bisa
    diamati!
3. Tuliskan hasil pengamatanmu.
Ingat, hanya hasil pengamatan, bukan tafsiran terhadap pengamatan!

Hasil pengamatan
Tulis minimal lima item hasil pengamatanmu ( … Jawab sebagai no.1)

Renungkan
  1. Tulis hasil pengamatan yang bisa diukur dengan alat ukur ( … Jawab sebagai No. 2)
  2. Tulis hasil pengamatan yang tidak bisa diukur dengan alat ukur ( … Jawab sebagai No. 3)
  3. Apakah ada yang bisa memengaruhi hasil pengamatan tersebut? ( … Jawab sebagai No. 4)
 Pikirkan
  1. Pada pengukuran menggunakan penggaris ada dua satuan pada semua alat tersebut, satuan apa yang kalian gunakan? ( … Jawab sebagai no.5)
  2. Beri alasan mengapa kamu menggunakan satuan tersebut. ( … Jawab sebagai no.6)
  3. Tulis lima alat ukur dan satuannya yang pernah kalian kenal di masa Sekolah Dasar ( … Jawab sebagai no.7)
 Evaluasi melalui Science Literacy
 
Stimulus
Kerja dalam IPA
  1. Potong kertas kertas tisu dengan ukuran 4 cm x 12 cm!
  2. Gambarkan atau beri garis dengan spidol (atau pena) hitam 2  cm dari ujung bawah kertas tisu tersebut!
  1. Ambil gelas bekas air mineral, isi dengan air setinggi 1 cm!
  1. Celupkan kertas tissue ke dalam air. Permukaan air 1 cm di bawah garis spidol
  2. Amati selama 10 menit
  3. Catat hasil pengamatanmu ( … Jawab sebagai no.8)
Pertanyaan
  1. Sebelum melakukan kegiatan, buatlah prediksi: apa yang akan terjadi pada garis hitam tersebut, setelah kertas tisu dicelupkan beberapa saat ke dalam air? ( … Jawab sebagai no.9)
  2. Jika prediksimu berbeda dengan kenyataannya, apakah akan diubah sesuai hasil pengamatanmu? Mengapa? ( … Jawab sebagai no.10)

Evaluasi melalui Science Literacy
Stimulus
Kerja dalam IPA
 








 Siapkan kertas berpetak atau kertas milimeter, penjepit, dan pensil.
  1. Perhatikan gambar di atas.
  2. Pikirkan bagaimana cara menentukan luas daun.
  3. Dengan menggunakan benda-benda di atas, terapkan metodemu untuk menentukan luas daun.
Pertanyaan
  1. Dapatkah luas sehelai daun diukur? ( … Jawab sebagai no.11)
  2. Tunjukkan/jelaskan cara yang kamu pilih untuk mengukur luas sehelai daun ( … Jawab sebagai no.12)
  1. Apa kelemahan pengukuran luas daun dengan cara di atas. ( … Jawab sebagai no.13)
  1. Temukan cara lain atau hal-hal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki metode pengukuran di atas? ( … Jawab sebagai no.14)
 Arahan
  1. Kegiatan ini idealnya sambil buka Buku siswa IPA kelas 7 semester satu. Bisa dibuka melalui internet bisa juga pinjam perpustakaan SMPN 3 Probolinggo.
  2. Kalian bias minto tolong atau diskusi dengan anggota keuargamu. Ayah, ibu, kakak atau temanmu yang main ke rumah.
  3. Ingat tetap pakai masker, sering cuci tangan dan jaga jarak.


God Bless You

Minggu, 21 Juni 2020

Jadilah Lucu

Tutup mulut dan jadilah lucu


A.S. Laksana
S
aya selalu terlambat dalam berkejaran dengan orang-orang lain di wilayah pergaulan digital. Beberapa teman, dan juga istri saya, sudah beberapa kali berganti smartphone, sedangkan saya  baru menggunakannya kurang lebih setengah tahun belakangan. Itupun dibelikan kawan baik yang merasa teharu melihat ponsel kuno yang saya gunakan.
Selanjutnya, saya mulai membiasakan diri dengan gawai tersebut-masih agak kikuk menggunakannya di tempat-tempat umum hingga sekarang. Saya hampir tidak pernah membuka media sosial di tempat umum, apalagi ketika sedang bercakap-cakap dengan teman –teman.
Sekarang saya sudah lebih fasih menggunakannya. Kadang-kadang, begitu bangun tidur, hal pertama yang saya cari adalah smartphone: saya memeriksa Facebook, WhatsApp, Twitter. Itu sebanya saya sekarang bertekad menjadikan buku sebagai benda pertama yang saya pegang begitu bangun tidur.
Pada suatu pagi pekan lalu, begitu saya bangun tidur, aplikasi WhatsApp memberi tahu 873 pesan. Beberapa tulisan di dinding Facebook membuat perasaan saya kalut dan marah. Dan perasaan marah itu bertahan lama: seharian saya menjalani urusan dengan kemarahan yang muncul sejak pagi hari.
Anda mungkin memiliki pengalaman serupa dengan yang saya alami pagi itu, atau bahkan sudah menjadi kebiasaan, langsung meraih smartphone setiap bangun tidur, dan membeku dengan gawai tersebut sampai beberapa waktu. Lalu, anda buka semua media sosial, mendapati beberapa tulisan yang membangkitkan perasaan marah, dan saat berikutnya anda ikut menceburkan diri ke jejaring sosial dan ikut-ikutan marah. Saya melihat banyak orang marah-marah di media sosial. Mereka marah hari ini, marah besok pagi, marah lagi lusa.
Saya pikir anda perlu hati-hati terhadap gejala semacam itu. Kemarahan adalah emosi sangat kuat, yang menjadi akar dari berbagai gangguan, baik fisik maupun emosional. Satu emosi, lainnya adalah kecemasan. Itu hasil penelitian personal yang dilakukan John Sarno, Profesor ilmu kedokteran New York University dan orang pertama yang menyodorkan Mind- Body Connection.
Kemarahan, sebagaimana emosi-emosi yang lain, adalah respons anda terhadap situasi eksternal. Situasi akan tetap seperti itu, hanya anda yang akan menjadi gila sendiri. Melampiaskan kemarahan setiap hari. Anda mengarang cerita sendiri di dalam benak anda, cerita yang cocok dengan amarah yang berkobar di dalam diri anda. Sebagian orang mendukung anda, sebagian yang lain tidak melihat situasi seperti anda melihatnya. Mereka baik-baik saja dan anda marah kepada orang-orang yang merasa semuanya baik-baik saja. Saya beruntung pernah mendengar cerita tentang bagaimana mengatasi kemarahan. Orang-orang dewasa yang menceritakan itu kepada saya bertahun-tahun lalu. Mereka bilang kemarahn adalah api, dan setan terbuat dari api. Karena itu, ketika kita marah, disarankan agar kita meminta perlindungan kepada Tuhan dari godaan setan yang terkutuk. Itu cara pertama mengatasi kemarahan menurut islam, agama keluarga saya.
Agama-agama lain, atau tradisi-tradisi lain, saya yakin memiliki cara masing-masing tentang bagaimana mengatasi kemarahan. Cara berikutnya, jika anda masih tetap marah meskipun sudah minta perlindungan, adalah tutup mulut, berhenti bicara. Orang yang marah biasanya akan menyemburkan kemarahnnya jika ia berata-kata. Ia sulit dihadapi dengan cara apapun. Kita diam, ia makin marah. Kita menjawab, ia makin marah.
Selain itu, ucapan orang yang sedang marah seringkali melukai orang lain. Luka yang disebabkan oleh tamparan bisa sembuh dan hilang bekasnya dalam beberapa hari. Luka yang disebabkan oleh kata-kata akan bertahan selamnya.
Masih ada teknik lain untuk mengatasi kemarahan, jika diam saja masih tidak mempan. Jika anda marah dalam keadaan berdiri, duduklah. Jika duduk pun masih marah, berbaringlah. Jika berbaring masih marah, basuhlah diri dengan air wudu.
Prinsipnya, kemarahan adalah api dan api adalah setan. Ia akan padam oleh air. Saya yakin membasuh diri dengan air wudu, bagi orang islam, akan memadamkan kemarahan. Ia akan memadamkan kebencian dan menghalangi kita dan urusan-urusan yang menyakiti orang lain. Misalnya, ikut-ikutan menjadi penyalur hoax dan menyebarkan kebencian.
Bagaimanapun, situasi bisa sulit, bisa bagus, tetapi pikiran kita perlu selalu bahagia. Kita perlu merawat pikiran agar ia selalu bisa melihat sekecil apa pun. Dalam situasi yang paling gelap.
Dalam urusan ini, saya kagum kepada orang-orang yang memiliki selera humor yang baik. Mereka memiliki pandangan dunia yang berbeda dari kebanyakan orang. Mereka selalu mampu melihat sisi yang membuat mereka bisa tersenyum pada semua situasi, entah situasi gelap atau terang.
Maka, jadilah lucu dan tertawalah, konon tertawa itu sehat. Setidaknya tersenyumlah. Senyum adalah sesuatu yang merekatkan hubungan antar manusia, sendangkan kemarahan menjauhan. Dan, kemarahan selalu bersumber dari diri sendiri dari pengalaman-pengalaman kita sendiri, dari cerita-cerita yang kita karang sendiri ketika merespons sebuah situasi, itu sebabnya, teknik mengatasi kemarahan, yang diajarkan oleh agama, adalah mengelola diri sendiri. Ia tidak mengajarkan bagaimana cara mengubah situasi, tetapi bagaimana kita mengelola diri sendiri. Perubahan siatuasi adalah resiko saja dari kecakapan kita mengelola diri sendiri.

Jawa Pos , MInggu 8 Januari 2017

coba lagi setelah baru terlahir kembali

coba lagi setelah baru terlahir kembali